Jumat, 05 Oktober 2012
Do'a dan Hikmah Pernikahan
17.13 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Do'a dan Hikmah Pernikahan
"Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya memberkati mereka berdua,
meningkatkan kualitas keturunannya sebagai pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu
dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat."
(Doa Nabi Muhammad SAW, pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)
"Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya memberkati mereka berdua,
meningkatkan kualitas keturunannya sebagai pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu
dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat."
(Doa Nabi Muhammad SAW, pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)
Filosofi dari Sebuah "Ikatan Pernikahan"
UNTUK SUAMI
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)
Pernikahan atau perkawinan, Menyingkap tabir rahasia ...
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah ...
Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama ...
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya ...
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok, ber-hati²lah meluruskannya ...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa ...
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh ... Amiiin
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)
Pernikahan atau perkawinan, Menyingkap tabir rahasia ...
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah ...
Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama ...
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya ...
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok, ber-hati²lah meluruskannya ...
Pernikahan ataupun perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa ...
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh ... Amiiin
UNTUK ISTRI
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)
Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad, Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
(Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)
Pernikahan ataupun perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad, Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
Atau pun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh ...
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsaraCuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ... Amiiin
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh ...
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya
Pernikahan ataupun Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsaraCuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ... Amiiin
Menuju Hari itu
17.10 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Dear my bLog,,,,ga kerasa. ternyata tinggal hitungan bulan, menuju hari itu, dan tinggal 1 bulan lagi. H-30.
Berdebar debar rasanya.
Di cek, Undangan dan souvenir dah ada, Wedding Organizer dah ada, gaunnya keren pula, jadi ga sabar,hehe.
Catering udah, Poko'nya TOP deh.
Hiburan, udah ada Musik Gambus, sebenernya kurang ngerti sih sama musik ni, tapi tak pelah daripada hiburannya Orgen tunggal alias dangdut, bikin pusing..hehe.
Tinggal siapin ilmu ilmu untuk menuju keluarga yang di RidhoiNya...
READ MORE - Menuju Hari itu
Berdebar debar rasanya.
Di cek, Undangan dan souvenir dah ada, Wedding Organizer dah ada, gaunnya keren pula, jadi ga sabar,hehe.
Catering udah, Poko'nya TOP deh.
Hiburan, udah ada Musik Gambus, sebenernya kurang ngerti sih sama musik ni, tapi tak pelah daripada hiburannya Orgen tunggal alias dangdut, bikin pusing..hehe.
Tinggal siapin ilmu ilmu untuk menuju keluarga yang di RidhoiNya...
Sedikit coretan
17.07 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Kata kata buat di undangan
Do’a Cinta Sang Pengantin
Ya Allah
Andai Kau berkenan, limpahkanlah kepada kami cinta
yang menjadikan pengikat rindu Rasulullah dan
Khadijatul Qubra, yang Kau jadikan mata air
kasih sayang Imam Ali dan Fatimah Azzahra
yang Kau jadikan penghias nabi-Mu yang suci
Ya Allah
Kami bersujud memohon ridho-Mu, jadikanlah kami
pasangan yang saling mencintai dikala dekat, menjaga
kehormatan dikala jauh, salinh menghibur dikala
duka, mengingatkan dikala bahagia serta saling
mendo’akan dalam ketaqwaan dan kebaikan
Ya Allah
Sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan
pernikahan kami ini sebagai iabadah kepada-Mu
dan bakti cinta kami kepada Rasul-Mu
Amien….
“Dan diantara tanda – tanda kekuasaan-Nya ialah cipataan-Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu mendapatkan ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang diatara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda- tanda kebesaran-Nya bagi orang – orang yang berfikir” (QS. Ar Rum : 21)
"Semoga Allah SWT menghimpun yang terserak dari keduanya memberkati mereka berdua,
meningkatkan kualitas keturunannya sebagai pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu
dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat."
(Doa Nabi Muhammad SAW, pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)
meningkatkan kualitas keturunannya sebagai pembuka pintu rakhmat, sumber ilmu
dan hikmah serta pemberi rasa aman bagi umat."
(Doa Nabi Muhammad SAW, pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)
Sabtu, 30 Juni 2012
4 Cara Menghilangkan Selulit Dengan Kopi
07.36 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Sabtu, 09 Juni 2012
Pencuri Mimpi
21.18 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Penulis: Fulki Ilmi
Dan akhirnya aku pun tetap berlari. Menembus pembatas-pembatas mimpi, yang sebetulnya kuciptakan sendiri. Aku berlari, menyongsong mimpi, menjemput kebahagiaan. Tak peduli jika akhirnya sepatuku rusak. Tak berhenti walaupun aku terjatuh dan merasa sakit. Mataku hanya tertuju pada gumpalan-gumpalan harapan yang ada di depan. Aku harus berlari. Aku hanya bisa berlari. Sayup-sayup terdengar denting-denting melodi merdu. Melodi yang kekal, namun hadir tanpa lantun.
Pria berkumis yang belakangan kuketahui bernama Pak Salim di depanku itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku menunggu dengan dada berdebar. Beberapa bulir keringat berjatuhan. Mungkin akumulasi dari panasnya cuaca dan juga ketegangan yang kurasakan. Detik-detik terbuang. Menyisakan partikel-partikel hampa yang saling bertabrakan di rongga-rongga tanya.
“Saya suka. Ini buku pertama Anda?” Katanya sambil mengetuk-ngetukkan naskah ke meja kerjanya yang mengilap.
“Benar, pak. Itu novel saya yang pertama.” Secercah harapan menghiasi sudut-sudut hatiku.
“Belum coba ke penerbit lain?”
“Sudah, Pak. Ini penerbit kelima yang saya coba. Tentu saja setelah saya perbaiki kekurangan-kekurangannya.”
“Baik. Buku Anda akan kami terbitkan. Nanti hal-hal mengenai persyaratan dan royalti menyusul. Tunggu telepon dari kami saja. Silakan tuliskan nomor Hp Anda. Dan, maaf, siapa tadi namanya? Saya lupa,”
“Mayang, Pak. Mayang Nurmalasari.”
Akupun melangkah keluar dari ruangan itu. Segala benda yang terlihat mataku terlihat lebih semarak, lebih berwarna. Langkahku ringan sekali, seperti melayang. Rasanya aku ingin memeluk semua orang.
***
“Ayah sarankan kamu masuk ITB. Ambil saja teknik kimia. Ayah perhatikan nilai kimia kamu selalu lebih tinggi dibandingkan matematika atau fisika.”
Aku hanya diam.
“Atau mau farmasi UNPAD? Tapi jangan ambil kedokteran, ya. Kuliahnya lama. Kasian kamu.”
Akupun mengangguk pasrah. Aku takut untuk mengutarakan isi hatiku. Padahal ingin sekali aku berkata pada Ayahku, bahwa tidak hanya kimia yang nilainya tinggi di rapot. Bahasa Indonesiaku juga nyaris sempurna. Kenapa hal itu bisa luput dari perhatian Ayah?
Aku terlalu takut untuk melawan. Teringat kejadian saat aku masih kelas 2 SMA. Aku memaksa untuk masuk kelas bahasa. Aku mencintai sastra. Tapi Ayahku tetap memaksa, aku harus masuk kelas IPA. Saat itu keberanianku lebih tinggi beberapa tingkat dari saat ini, mungkin karena pengaruh hormon yang belum stabil, sehingga aku meledak-ledak. Akibatnya, aku ditampar keras sekali. Kata Ayah, aku anak yang keras kepala.
“Jadi mau yang mana? Kok diam saja?”
“Terserah Ayah. Yang mana saja boleh, Yah.” Aku mencoba tersenyum.
“Nah, bagus bagus. Itu baru anak Ayah. Nanti Ayah belikan ya formulir tesnya.”
***
Semester demi semester selanjutnya kuhabiskan dengan belajar. Berusaha menekuni apa yang menjadi beban belajarku tiap semester. Aku memang bukan peraih IPK tertinggi di jurusan, tapi tetap saja lulus dengan sangat memuaskan.
Ayahku bisa berbangga-bangga pada sahabatnya. Bahwa anak gadisnya sangat pintar. Berhasil masuk ITB dan kuliah teknik. Aku senang-senang saja bisa dibanggakan Ayah. Namun tetap saja, kadang ada kehampaan yang tidak bisa ku jelaskan.
Hari berkumpul menjadi minggu, minggu berbuah bulan, dan bulan melahirkan tahun. Masa-masa kuliah yang beratpun berakhir. Aku bisa menjauhkan diri dari segala hal yang berbau reaksi kimia. Bayangan akan kebebasan terpeta jelas. Aku berharap Ayahku sudah menganggapku cukup dewasa untuk mengambil langkah sendiri.
“Ayah lihat banyak teman kamu yang dikontrak kerja bahkan sebelum mereka lulus. Kamu bagaimana, Mayang?”
“Mayang masih letih, Yah. Boleh kan kalau santai dulu barang beberapa bulan?”
“Oh jadi anak Ayah ini mau jadi pengangguran dulu ya? Iya gak apa-apa. Santai saja, Nak. Nanti kalau sudah cukup istirahatnya, bilang Ayah. Nanti ayah carikan lowongan yang pas buat kamu.”
Akupun mengangguk pasrah. Apa memang aku masih harus dipapah dalam setiap langkah hidupku? Apakah semua nasib anak tunggal seperti aku? Apakah masih harus ditunjukkan setiap lubang di jalan, setiap tikungan, setiap tanjakan? Kapan aku dianggap dewasa?
Akupun lalu membuka laptop. Aku ingin menuliskan semua yang kurasakan. Sampai sedetail-detailnya. Tanganku menari dengan lincah. Tapi tetap saja tidak bisa mengimbangi kecepatan kata-kata yang meluncur deras. Semuanya berebutan untuk dituangkan. Seperti air bah, akupun kesulitan mengendalikan luapan emosiku.
***
“Mayang, kamu masih belum mau bekerja, Nak?” Ibuku menyodorkan segelas teh manis padaku yang sedang asyik membaca novel.
“Ayah nanya ya, Bun?” Ibu mengangguk.
“Iya. Bukankah kamu sudah 6 bulan di rumah saja. Membaca bertumpuk-tumpuk novel. Tidak bosan?”
Aku menyelipkan pembatas buku di halaman yang sedang ku lahap, lantas menutup bukunya.
“Mayang tidak mau kerja, Bunda. Mayang sudah lelah mengikuti kemauan Ayah. Mayang mau jadi penulis. Dengan atau tanpa persetujuan Ayah.”
READ MORE - Pencuri Mimpi
Dan akhirnya aku pun tetap berlari. Menembus pembatas-pembatas mimpi, yang sebetulnya kuciptakan sendiri. Aku berlari, menyongsong mimpi, menjemput kebahagiaan. Tak peduli jika akhirnya sepatuku rusak. Tak berhenti walaupun aku terjatuh dan merasa sakit. Mataku hanya tertuju pada gumpalan-gumpalan harapan yang ada di depan. Aku harus berlari. Aku hanya bisa berlari. Sayup-sayup terdengar denting-denting melodi merdu. Melodi yang kekal, namun hadir tanpa lantun.
Pria berkumis yang belakangan kuketahui bernama Pak Salim di depanku itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku menunggu dengan dada berdebar. Beberapa bulir keringat berjatuhan. Mungkin akumulasi dari panasnya cuaca dan juga ketegangan yang kurasakan. Detik-detik terbuang. Menyisakan partikel-partikel hampa yang saling bertabrakan di rongga-rongga tanya.
“Saya suka. Ini buku pertama Anda?” Katanya sambil mengetuk-ngetukkan naskah ke meja kerjanya yang mengilap.
“Benar, pak. Itu novel saya yang pertama.” Secercah harapan menghiasi sudut-sudut hatiku.
“Belum coba ke penerbit lain?”
“Sudah, Pak. Ini penerbit kelima yang saya coba. Tentu saja setelah saya perbaiki kekurangan-kekurangannya.”
“Baik. Buku Anda akan kami terbitkan. Nanti hal-hal mengenai persyaratan dan royalti menyusul. Tunggu telepon dari kami saja. Silakan tuliskan nomor Hp Anda. Dan, maaf, siapa tadi namanya? Saya lupa,”
“Mayang, Pak. Mayang Nurmalasari.”
Akupun melangkah keluar dari ruangan itu. Segala benda yang terlihat mataku terlihat lebih semarak, lebih berwarna. Langkahku ringan sekali, seperti melayang. Rasanya aku ingin memeluk semua orang.
***
“Ayah sarankan kamu masuk ITB. Ambil saja teknik kimia. Ayah perhatikan nilai kimia kamu selalu lebih tinggi dibandingkan matematika atau fisika.”
Aku hanya diam.
“Atau mau farmasi UNPAD? Tapi jangan ambil kedokteran, ya. Kuliahnya lama. Kasian kamu.”
Akupun mengangguk pasrah. Aku takut untuk mengutarakan isi hatiku. Padahal ingin sekali aku berkata pada Ayahku, bahwa tidak hanya kimia yang nilainya tinggi di rapot. Bahasa Indonesiaku juga nyaris sempurna. Kenapa hal itu bisa luput dari perhatian Ayah?
Aku terlalu takut untuk melawan. Teringat kejadian saat aku masih kelas 2 SMA. Aku memaksa untuk masuk kelas bahasa. Aku mencintai sastra. Tapi Ayahku tetap memaksa, aku harus masuk kelas IPA. Saat itu keberanianku lebih tinggi beberapa tingkat dari saat ini, mungkin karena pengaruh hormon yang belum stabil, sehingga aku meledak-ledak. Akibatnya, aku ditampar keras sekali. Kata Ayah, aku anak yang keras kepala.
“Jadi mau yang mana? Kok diam saja?”
“Terserah Ayah. Yang mana saja boleh, Yah.” Aku mencoba tersenyum.
“Nah, bagus bagus. Itu baru anak Ayah. Nanti Ayah belikan ya formulir tesnya.”
***
Semester demi semester selanjutnya kuhabiskan dengan belajar. Berusaha menekuni apa yang menjadi beban belajarku tiap semester. Aku memang bukan peraih IPK tertinggi di jurusan, tapi tetap saja lulus dengan sangat memuaskan.
Ayahku bisa berbangga-bangga pada sahabatnya. Bahwa anak gadisnya sangat pintar. Berhasil masuk ITB dan kuliah teknik. Aku senang-senang saja bisa dibanggakan Ayah. Namun tetap saja, kadang ada kehampaan yang tidak bisa ku jelaskan.
Hari berkumpul menjadi minggu, minggu berbuah bulan, dan bulan melahirkan tahun. Masa-masa kuliah yang beratpun berakhir. Aku bisa menjauhkan diri dari segala hal yang berbau reaksi kimia. Bayangan akan kebebasan terpeta jelas. Aku berharap Ayahku sudah menganggapku cukup dewasa untuk mengambil langkah sendiri.
“Ayah lihat banyak teman kamu yang dikontrak kerja bahkan sebelum mereka lulus. Kamu bagaimana, Mayang?”
“Mayang masih letih, Yah. Boleh kan kalau santai dulu barang beberapa bulan?”
“Oh jadi anak Ayah ini mau jadi pengangguran dulu ya? Iya gak apa-apa. Santai saja, Nak. Nanti kalau sudah cukup istirahatnya, bilang Ayah. Nanti ayah carikan lowongan yang pas buat kamu.”
Akupun mengangguk pasrah. Apa memang aku masih harus dipapah dalam setiap langkah hidupku? Apakah semua nasib anak tunggal seperti aku? Apakah masih harus ditunjukkan setiap lubang di jalan, setiap tikungan, setiap tanjakan? Kapan aku dianggap dewasa?
Akupun lalu membuka laptop. Aku ingin menuliskan semua yang kurasakan. Sampai sedetail-detailnya. Tanganku menari dengan lincah. Tapi tetap saja tidak bisa mengimbangi kecepatan kata-kata yang meluncur deras. Semuanya berebutan untuk dituangkan. Seperti air bah, akupun kesulitan mengendalikan luapan emosiku.
***
“Mayang, kamu masih belum mau bekerja, Nak?” Ibuku menyodorkan segelas teh manis padaku yang sedang asyik membaca novel.
“Ayah nanya ya, Bun?” Ibu mengangguk.
“Iya. Bukankah kamu sudah 6 bulan di rumah saja. Membaca bertumpuk-tumpuk novel. Tidak bosan?”
Aku menyelipkan pembatas buku di halaman yang sedang ku lahap, lantas menutup bukunya.
“Mayang tidak mau kerja, Bunda. Mayang sudah lelah mengikuti kemauan Ayah. Mayang mau jadi penulis. Dengan atau tanpa persetujuan Ayah.”
Ibuku terdiam. Matanya bergerak-gerak gelisah. Siapa lagi yang paling mengetahui karakter Ayah selain ibuku ini?
“Mayang... Ijazah teknik kamu itu mau diapakan? Sayang, kan? Kamu bisa menulis di sela-sela pekerjaan kamu. Dengan begitu, kamu masih bisa punya penghasilan besar, juga bisa menekuni hobi kamu. Bagaimana?”
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Ini hidupku. Biarkan aku yang mengisinya, tekadku dalam hati.
***
Naskah itu telah ku selesaikan. Kumpulan alfabetis yang sudah mulai kuguratkan saat masih kelas 1 SMA. Aku sudah bertekad bahwa aku akan menjadi penulis. Aku ingin mengisi hidupku dengan impian-impian yang kutuangkan dalam bentuk cerita. Dalam bentuk artikel, puisi, cerpen, novel, prosa, apa saja.
Akan kusentuh orang tua yang kurang memperhatikan anaknya. Akan kusindir pemerintah-pemerintah yang lupa pada rakyatnya. Akan kupacu semangat mereka, orang-orang yang berkutat dengan peluh dan luka untuk bisa mengisi perutnya. Semuanya akan aku sapa. Dimulai dari laptop kecil yang ada ditangaku, dengan jemari sebagai pedangnya, aku tidak hanya menulis, tapi juga membangun peradaban. Ya, mimpiku telah mulai mewujud bentuknya.
Sudah kuputuskan karya pertamaku adalah karya yang sudah mengendap di laptopku selama bertahun-tahun. Karya iseng yang kutulis saat aku kelas 1 SMA itu kini sudah rampung. Tidak bisa dipungkiri dalam penulisan novel pertamaku itu latar belakang pendidikanku yang berbau kimia ikut muncul. Ternyata memang hal yang paling mudah adalah menuliskan apa yang setiap hari kita jumpai. Dengan penuh harapan akupun langsung mengirimkan naskah ke penerbit mayor.
“Mau kamu apa sih?”
Masih terngiang bentakan dari Ayah beberapa bulan yang lalu. Tapi aku tidak gentar. Gemetar-gemetar yang menyelusup kucoba sembunyikan rapat-rapat.
“Mayang ingin menulis. Mayang ingin membangunkan orang-orang yang saat ini sedang tidur.” Aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Berusaha menunjukkan bahwa aku tidak sedang main-main.
“Hah? Kamu harusnya ngaca dulu mau bicara kayak gitu! Yang tidur itu kamu! Sarjana teknik milih jadi pengangguran? Dimana otak kamu, Mayang?”
Untunglah saat itu aku bisa mengendalikan diri dan tidak ikut emosi. Akhirnya muncul kesepakatan. Jika pada tahun ini, yang berarti tersisa enam bulan lagi, bukuku berhasil terbit, Ayah akan mengizinkan aku menjadi penulis. Tapi jika tidak, maka aku harus bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikanku itu.
Aku yakin bahwa aku mampu. Seyakin menunggu mentari esok yang pasti terbit.
***
“Ayah... Novelku sedang dalam proses penerbitan!” Aku berteriak senang.
“Benarkah?” Alisnya naik sebelah.
“Tepati janji Ayah, ya! Mayang tidak harus kerja, kan?”
“Sesukamu sajalah.” Katanya sambil masuk ke kamar.
Akupun merasa menang. Setelah ditolak empat kali, penerbit kelima mau menerima karyaku. Mulai sekarang aku bisa melukis macam-macam mimpi, di kanvasku sendiri. Mimpi yang kemudian bisa kubagikan pada banyak orang.
Handphoneku bergetar, lalu menyanyikan lagu favoritku. Sederet nomor tak dikenal berkedip-kedip di layar.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Ini dengan Mbak Mayang, ya? Saya Asti. Saya editor yang akan mengedit novel Mbak Mayang.”
“Oh iya, Mbak. Terima kasih. Ada yang bisa saya bantu?”
“Naskah hardcopy Mbak Mayang yang kemarin masih di Pak Salim. Beliau sedang ke luar kota dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Katanya naskah Mbak Mayang terbawa. Bisa Mbak kirim ulang? Via e-mail saja.”
“Baik, Mbak. Terima kasih. Saya akan segera kirim.”
Setelah mencatat alamat e-mail yang dimaksud, akupun berjalan menuju garasi. Laptopku ada di dalam mobil. Namun sampai di garasi aku mengerutkan kening. Lalu menepuknya pelan.
“Oh iya ya. Tadi kan aku parkir di luar rumah.” Aku lupa, mobil memang belum dimasukkan ke garasi, masih kuparkir di pinggir jalan dekat rumah. Tadi saat pulang, sudah diklakson berkali-kali tidak ada yang membukakan pagar, apalagi pintu garasi.
Aku melihat mobilku masih terparkir di tempat yang sama. Namun tiba-tiba kepanikan dan rasa takut berebut mendominasi perasaanku. Kaca di bagian pinggir mobilku pecah. Serpihan-serpihan kaca bertebaran di mana-mana.
Aku berlari, memaksa kakiku untuk bergerak walau rasanya tulang-tulang di kakiku mendadak hilang. Rasa takutku terbukti. Laptop yang tadi kusimpan di kursi depan sudah tidak ada. Aku teringat pada mimpiku yang sebentar lagi mewujud. Haruskah ia pergi tanpa pernah benar-benar datang? Mimpiku dicuri! (*)
“Mayang... Ijazah teknik kamu itu mau diapakan? Sayang, kan? Kamu bisa menulis di sela-sela pekerjaan kamu. Dengan begitu, kamu masih bisa punya penghasilan besar, juga bisa menekuni hobi kamu. Bagaimana?”
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Ini hidupku. Biarkan aku yang mengisinya, tekadku dalam hati.
***
Naskah itu telah ku selesaikan. Kumpulan alfabetis yang sudah mulai kuguratkan saat masih kelas 1 SMA. Aku sudah bertekad bahwa aku akan menjadi penulis. Aku ingin mengisi hidupku dengan impian-impian yang kutuangkan dalam bentuk cerita. Dalam bentuk artikel, puisi, cerpen, novel, prosa, apa saja.
Akan kusentuh orang tua yang kurang memperhatikan anaknya. Akan kusindir pemerintah-pemerintah yang lupa pada rakyatnya. Akan kupacu semangat mereka, orang-orang yang berkutat dengan peluh dan luka untuk bisa mengisi perutnya. Semuanya akan aku sapa. Dimulai dari laptop kecil yang ada ditangaku, dengan jemari sebagai pedangnya, aku tidak hanya menulis, tapi juga membangun peradaban. Ya, mimpiku telah mulai mewujud bentuknya.
Sudah kuputuskan karya pertamaku adalah karya yang sudah mengendap di laptopku selama bertahun-tahun. Karya iseng yang kutulis saat aku kelas 1 SMA itu kini sudah rampung. Tidak bisa dipungkiri dalam penulisan novel pertamaku itu latar belakang pendidikanku yang berbau kimia ikut muncul. Ternyata memang hal yang paling mudah adalah menuliskan apa yang setiap hari kita jumpai. Dengan penuh harapan akupun langsung mengirimkan naskah ke penerbit mayor.
“Mau kamu apa sih?”
Masih terngiang bentakan dari Ayah beberapa bulan yang lalu. Tapi aku tidak gentar. Gemetar-gemetar yang menyelusup kucoba sembunyikan rapat-rapat.
“Mayang ingin menulis. Mayang ingin membangunkan orang-orang yang saat ini sedang tidur.” Aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Berusaha menunjukkan bahwa aku tidak sedang main-main.
“Hah? Kamu harusnya ngaca dulu mau bicara kayak gitu! Yang tidur itu kamu! Sarjana teknik milih jadi pengangguran? Dimana otak kamu, Mayang?”
Untunglah saat itu aku bisa mengendalikan diri dan tidak ikut emosi. Akhirnya muncul kesepakatan. Jika pada tahun ini, yang berarti tersisa enam bulan lagi, bukuku berhasil terbit, Ayah akan mengizinkan aku menjadi penulis. Tapi jika tidak, maka aku harus bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikanku itu.
Aku yakin bahwa aku mampu. Seyakin menunggu mentari esok yang pasti terbit.
***
“Ayah... Novelku sedang dalam proses penerbitan!” Aku berteriak senang.
“Benarkah?” Alisnya naik sebelah.
“Tepati janji Ayah, ya! Mayang tidak harus kerja, kan?”
“Sesukamu sajalah.” Katanya sambil masuk ke kamar.
Akupun merasa menang. Setelah ditolak empat kali, penerbit kelima mau menerima karyaku. Mulai sekarang aku bisa melukis macam-macam mimpi, di kanvasku sendiri. Mimpi yang kemudian bisa kubagikan pada banyak orang.
Handphoneku bergetar, lalu menyanyikan lagu favoritku. Sederet nomor tak dikenal berkedip-kedip di layar.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Ini dengan Mbak Mayang, ya? Saya Asti. Saya editor yang akan mengedit novel Mbak Mayang.”
“Oh iya, Mbak. Terima kasih. Ada yang bisa saya bantu?”
“Naskah hardcopy Mbak Mayang yang kemarin masih di Pak Salim. Beliau sedang ke luar kota dan tidak akan kembali dalam waktu dekat. Katanya naskah Mbak Mayang terbawa. Bisa Mbak kirim ulang? Via e-mail saja.”
“Baik, Mbak. Terima kasih. Saya akan segera kirim.”
Setelah mencatat alamat e-mail yang dimaksud, akupun berjalan menuju garasi. Laptopku ada di dalam mobil. Namun sampai di garasi aku mengerutkan kening. Lalu menepuknya pelan.
“Oh iya ya. Tadi kan aku parkir di luar rumah.” Aku lupa, mobil memang belum dimasukkan ke garasi, masih kuparkir di pinggir jalan dekat rumah. Tadi saat pulang, sudah diklakson berkali-kali tidak ada yang membukakan pagar, apalagi pintu garasi.
Aku melihat mobilku masih terparkir di tempat yang sama. Namun tiba-tiba kepanikan dan rasa takut berebut mendominasi perasaanku. Kaca di bagian pinggir mobilku pecah. Serpihan-serpihan kaca bertebaran di mana-mana.
Aku berlari, memaksa kakiku untuk bergerak walau rasanya tulang-tulang di kakiku mendadak hilang. Rasa takutku terbukti. Laptop yang tadi kusimpan di kursi depan sudah tidak ada. Aku teringat pada mimpiku yang sebentar lagi mewujud. Haruskah ia pergi tanpa pernah benar-benar datang? Mimpiku dicuri! (*)
Rabu, 28 Maret 2012
Jadi Muslim kaya itu harus
07.29 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Mauku, Keinginan ku seiring dengan keinginanNya
READ MORE - Jadi Muslim kaya itu harus
Itu berati yang aku butuhkan.
Jadi Muslim kaya itu harus, no takabur.
Muslim Miskin boleh, No Kufur
Kebanyakan Pendapat Kaya itu identik dengan Jumlah Harta.
Sepertinya tidak seperti itu deh, coba klo orang itu kaya Harta, tapi Miskin hati, moral.
Apa yang terjadi klo tiba2 hartanya Ludes?
Yang ada Strees,,,dan masuk Rumah sakit Jiwa,,,dan kasus lainnya..
Beda lagi kalo orang yang Kaya harta di Iringi dengan Keimanan,
Dijamin ga kan kaya gitu, klo kaya gitu, samperin ane ke rumah,,hehhe.
Kalo ada yg ngaku2 dah punya Iman, tapi masih setres,
Mungkin Iman cuma diucap, bukan dirasakan,,,,
Tadi yang kaya,
Sekarang yang Miskin,
Siapa yang mau Miskin?
aku sih nggak,
Sebagai Umat Nabi Muhammad,, aku sih mau teladani Beliau,
Orang yang dititipkan harta melimpah, tetapi tetap sederhana dalam bersikap.
Alesan ga mau miski?
Karna Kemiskinan itu mendekatan kepada Kekufuran,
Liat aja diberita2, orang yang merasa terhimpit ekonominya,
banyak yang Bunuh diri, ampe ngajak anaknya segala,,,
Kasian banget ya anaknya,,hehehe..
Pintaku,, Jika aku dikehendaki Untuk dititipi Harta Lebih, Jangan kehendaki aku u/ takabur.
Jika di titipi harta sedikit, Jangan Biarkan aku Kufur.
SO,,,,Kenapa Kaya itu Harus?
Silakan jawab sendiri, Trims
Siti Juhariah
Label:
Ceritaku
|
0
komentar
Kamis, 01 Maret 2012
Puisi Dari Sahabat
17.40 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Tulisan dari sahabat lewat Inbox fB.
^_^
met ultah sahabat!
^_^
met ultah sahabat!
kata utk mwakili maksud hati,
Smentara tulisan skedar mwakili khadiran diri,
Do'a q utk mu di hari kelahiranmu,
Sahabat,
Slamat ulang tahun yachhh!!
Smoga dgn brtambahx usia mk brtambh pula kbahagiaan utk mu,
Smoga allah swt slalu mnyayangimu, mnjagamu_mlindungimu dgn karunia & ampunannya
; cintanya yg ta pernh berksudahan_
Sahabat,
Smoga allah swt mmudahkan jaln hidupmu, mndekatkanmu pd tujuan hidupmu,
Smoga allah swt mmbantumu menggapai cita&cinta yg indh dlm jalnNYA
Smoga do'a q mampu mmnuhi scercah asa dlm hatimu&smoga asa{k'inginan dlm hati}mu tlah mnjdi do'a2q & semoga smw do'amu jg mnjadi do'a2q_
Dan smoga allah swt bs mnrima smw do'a q utkmu
Aminn,aminn,
{smoga brkenan_
Ta ada kue&lilin ulangtahun_
Skedar do'a yg trpanjatkn dgn ikhlas dr sahabat yg mungkin trlupakan_}
Smentara tulisan skedar mwakili khadiran diri,
Do'a q utk mu di hari kelahiranmu,
Sahabat,
Slamat ulang tahun yachhh!!
Smoga dgn brtambahx usia mk brtambh pula kbahagiaan utk mu,
Smoga allah swt slalu mnyayangimu, mnjagamu_mlindungimu dgn karunia & ampunannya
; cintanya yg ta pernh berksudahan_
Sahabat,
Smoga allah swt mmudahkan jaln hidupmu, mndekatkanmu pd tujuan hidupmu,
Smoga allah swt mmbantumu menggapai cita&cinta yg indh dlm jalnNYA
Smoga do'a q mampu mmnuhi scercah asa dlm hatimu&smoga asa{k'inginan dlm hati}mu tlah mnjdi do'a2q & semoga smw do'amu jg mnjadi do'a2q_
Dan smoga allah swt bs mnrima smw do'a q utkmu
Aminn,aminn,
{smoga brkenan_
Ta ada kue&lilin ulangtahun_
Skedar do'a yg trpanjatkn dgn ikhlas dr sahabat yg mungkin trlupakan_}
Label:
Puisi
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
Total Tayangan Halaman
Mari Silaturahmi
Follower
My Blog List
Popular Posts
-
Ada beberapa referensi nih buat sanggar rias pengantin, yang pasti TOP deh hasil riasannya, walau nggak aku pake,,,hehehe 1. Sanggar Liz...
-
Setiap kemasan makanan atau minuman umumnya mencantumkan label yang berisi kandungan nutrisi dalam produk tersebut. Tapi seringkali hal sepe...
-
Setiap produsen minyak goreng, pasti mengklaim produknyalah yang paling baik, dan menyehatkan. Misalnya, karena mengandung omega 3 dan omega...
-
Check out this SlideShare Presentation: Pola-pola Kemitraan dalam Pengembangan Usaha Ekonomi Skala Kecil, Menengah dan Besar View more prese...
