Jumat, 03 Februari 2012

postheadericon KARPET

Penulis: Muhammad Saleh




TIDAK ada satu pun penduduk kampung yang tahu, siapa yang meletakkan karpet itu di dalam masjid. Tahu-tahu sudah tergeletak begitu saja di dekat tiang penyangga masjid. Pak Kasim, marbot masjid itu yang menemukannya pertama kali. Ketika ia menyalakan lampu masjid untuk mengumandangan azan subuh, ia melihat sebuah gulungan besar berbungkus plastik. Ketika ia membukanya, ternyata sebuah karpet besar berbentuk sajadah.
Kabar itu cepat menyebar seseantero kampung. Menjadi pembicaraan hangat di sebuah warung pagi itu. Kalau tadi malam ada orang yang menghadiahi masjid mereka sebuah karpet baru.
“Kira-kira siapa orang dermawan yang menghadiahi masjid kita karpet baru itu?” tanya seorang warga. Mulutnya dengan lahap menyantap pisang goreng yang masih hangat.
Semua warga saling pandang. Kali saja ada yang bisa menjawabnya. Semua mengangkat bahu. Lalu, seorang pemuda tanggung yang duduk di kursi paling ujung menyahut.

"Entahlah... yang pasti bukan Haji Karmo. Dia kan orangnya hitung-hitungan dan pelit lagi.”
Semua yang ada di warung itu tergelak mendengarnya. Siapa yang tak tahu dengan Haji Karmo, orang terlanjur kaya yang low profile. Namun pelitnya minta ampun. Jika memberi pasti ada maunya atau mendatangkan untung buatnya.
Hingga kabar tentang karpet itu terdengar juga sampai ke telinga Haji Karmo. Ia berang mendengarnya. Siapa yang telah berani menandinginya dalam hal bersedekah? Siangnya, Haji Karmo langsung berangkat ke masjid itu. Membuktikan apa benar berita yang ia dengar.
Sesampainya di masjid, beberapa warga telah berkumpul, sebab waktu zuhur sebentar lagi akan datang. Sambil menunggu waktu shalat masuk, tak henti-hentinya beberapa warga membicarakan tentang karpet misterius itu di dekat tempat wudhu.
“Mungkin orang yang memberi karpet ini tak ingin dianggap riya. Jadi ia meletakkannya pada malam hari.” Kata Dirman memulai pembicaraan.
“Iya. Saya kira juga begitu. Tapi saya jadi penasaran, siapa orangnya, ya?” sahut bapak berkumis tebal sambil merapikan sarungnya.
“Yang jelas dia orang baik. Kita doakan saja agar rezeki orang itu semakin dibukakan oleh Allah.” Tambah Haji Makmur, imam masjid itu.
Mendengar itu, telinga Haji Karmo semakin panas. Ia tak tahan mendengar orang lain di puji-puji selain dirinya. Haji Karmo pun ikut nimbrung.
“Pak Haji Makmur ini gimana sih, cuma pemberian satu karpet itu saja dibesar-besarkan. Tak ingat apa? Dulunya saya penyumbang terbesar pembangunan masjid ini, saya biasa-biasa saja,” imbuh Haji Karmo mengingatkan.
Memang, Haji Karmo lah yang memberikan dana cukup besar untuk merampungkan masjid kebanggaan kampung itu. Sehingga seluruh warga memujinya. Sejak saat itulah orang yang sudah dua kali pergi ke tanah suci ini menjadi haus akan pujian.
Haji Makmur saling pandang dengan dua orang di sampingnya. Si bapak berkumis tebal tersenyum tipis. Lalu ia berujar, “Kan tak ada salahnya, toh, Pak, kita membalas kebaikannya dengan mendoakannya.”
Kalau terus di puji-puji, nanti dia akan sombong,” Haji Karmo masih tak terima. “Lagian belum tentu juga duit yang ia pakai untuk membeli karpet itu dari duit yang halal. Bisa sajakan duit dari mencuri atau korupsi.”
Jangan ber-suuzhon, Pak,” potong Haji Makmur, “Biarlah Allah yang membalas kebaikannya.”
Haji Karmo masih ingin menyahut, namun terhenti ketika mendengar suara bedug yang dipukul oleh marbot. Menandakan waktu zuhur telah sampai. Namun, bukannya mengambil air wudhu, Haji Karmo memutar tubuhnya untuk pulang.
Lho... tak shalat zuhur berjamaah, Pak?” tanya Haji Makmur
Saya tak mau shalat di masjid ini lagi, kalau masih memakai karpet yang tak jelas dari mana dan siapa.” Sahut Haji Karmo ketus. Ia mempercepat langkahnya meninggalkan halaman masjid.
Haji Makmur menarik napas dalam sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Haji Karmo.
***
Dua hari sejak kejadian itu, Haji Karmo semakin gelisah. Ia uring-uringan dan marah-marah tak karuan. Semua pegawai yang bekerja di rumahnya merasa heran. Ada apa dengan Haji Karmo?
Orang-orang masih membicarakan si pemberi karpet misterius itu. Memuji-mujinya, bahkan ada yang bilang, orang itu lebih baik dari Haji Karmo. Sehingga Haji Karmo semakin tak tenang.
“Bukannya bagus toh, Pak, ada yang memberi masjid itu karpet baru. Jadi kita tak perlu keluar duit untuk membelikannya,” kata Hajjah Sarminah, istrinya, melihat kegelisahan suaminya.
“Kalau masalah itu, bapak juga setuju, Bu. Tapi bapak tidak senang orang-orang terus memuji-mujinya. Seharusnya kan bapak yang dipuji-puji sebagai donator terbesar masjid itu.”
“Ya cari tahu siapa orangnya, Pak. Jadi kita tahu, apakah dia lebih kaya dari kita atau sebaliknya.” Hajah Sarminah memberi usul.
Haji Karmo menimbang-nimbang sesaat, sambil menghirup teh hangatnya. Apa yang dikatakan istriku benar juga, batinnya. Lalu, Haji Karmo memanggil Udin, tukang kebun rumahnya, untuk mencari tahu siapa pemberi karpet itu.

Malam ini hujan turun dengan deras disertai petir yang menggelegar. Angin bersiut-siut menampar dedaunan. Semua warga kampung lebih memilih bersemayam di rumah bertemankan selimut tebal, daripada begadang di pos ronda.

Di sebuah jalan yang penuh air, Mak Saudah–demikian orang-orang kampung memanggilnya, walau sebenarnya ia tak mempunyai anak–tertatih membawa sesuatu dalam dekapannya. Kepalanya hanya dilindungi sebuah payung kecil, dengan kawat kisinya sudah banyak yang pengkor.


Ia menuju masjid, ada sesuatu yang ingin diletakkannya di sana. Seperti tiga hari yang lalu, ia dengan susah payah membawa gulungan karpet menuju masjid dan ia letakkan di dekat tiang penyangga. Kali ini ia membawa sebuah mikrofon baru, sebab sudah dua hari ini ia tak pernah mendengar suara azan berkumandang, dikarenakan mikrofon masjid rusak.


Sengaja ia meletakkannya di malam hari, agar tak ada satu wargapun yang tahu. Ia tak ingin nanti ditanya-tanya warga, dari mana ia mendapatkan uang untuk membeli karpet dan mikrofon itu, sedangkan ia orang miskin.


“Biarlah Allah saja yang tahu.” Ucap batinnya.
Dengan susah payah menerabas air hujan, Mak Saudah sampai juga di masjid itu. Segera ia membuka pintu masjid yang memang tidak dikunci, lalu ia letakkan mikrofon itu di atas mihrab, agar mudah ditemukan. Lalu ia cepat-cepat kembali ke luar, sebelum ketahuan oleh marbot yang mungkin sedang terlelap di ruang belakang masjid.


Mak Saudah tak tahu, sedari tadi sepasang mata memperhatikannya. Ia tak sengaja melihat Mak Saudah menuju masjid, lalu ia mengikutinya. Hujan-hujan begini, dia juga lebih senang berada di rumah. Namun, karena anaknya sakit perut, ia harus membelikan obat ke warung di ujung kampung.


Ia tersenyum, kabar ini akan membuat Haji Karmo senang, pikirnya. Dan ia akan dikasih uang, seperti yang dijanjikan Haji Karmo padanya.
***
Mikrofon baru yang ditemukan marbot di atas mihrab kembali menyebar ke seantero kampung. Kembali menjadi pembicaraan hangat di warung, pagi itu. Kalau tadi malam ada orang yang menghadiahi masjid mereka sebuah mikrofon baru lagi.
“Aku jadi semakin penasaran, siapa orang baik itu,” kata seorang warga, yang disambut anggukan oleh warga yang lain. Mereka juga sama penasaran.
“Saya tahu orangnya.” Sahut sebuah suara. Semua warga cepat berpaling ke arah suara.Haji Karmo telah berdiri di luar warung sambil tersenyum lebar. Pagi-pagi sekali, Udin telah memberitahukan kepadanya, siapa yang telah meletakkan mikrofon itu, dan juga karpet misterius.
Tak ada warga yang percaya dengan ucapan Haji Karmo, bahwa Mak Saudah lah orangnya.
“Haji Karmo ini ada-ada saja, tak mungkin lah Mak Saudah yang miskin, bisa membeli karpet dan mikrofon yang mahal itu,” protes seorang warga.
“Sebaiknya kita tanyakan langsung pada orangnya.” Haji Karmo lalu mengajak orang-orang untuk mendatangi rumah Mak Saudah. Ada sebuah niat licik yang terbersit di hatinya.
Mak Saudah yang sedang menyapu daun-daun kering di halaman rumahnya yang kecil, kaget bercampur bingung. Kenapa tiba-tiba warga mendatanginya?
Warga bertanya, apa benar dia yang memberikan karpet dan mikrofon itu? Mak Saudah semakin bingung, dari mana warga tahu kalau ia yang meletakkan karpet itu di dalam masjid.
Mula-mula Mak Saudah enggan menjawabnya. Ia mencoba berbasi-basi. Namun beberapa warga terus mendesaknya.
“Jawab saja lah Mak, kami hanya ingin tahu.”
Mak Saudah menatap semua warga bergantian, termasuk Haji Karmo yang berdiri paling depan. Raut muka Mak Saudah tiba-tiba berubah sedih, lalu ada butiran bening mengambang di sudut mata tuanya.
Hiks.... kalian semua tentu tahu, aku hanya seorang perempuan malang dan miskin. Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, juga tak punya seorang anak pun seperti kalian. Maka, setiap hari aku menyisihkan uang hasil menjual kayu bakar untuk kutabung.
Lalu setelah terkumpul, aku membelikannya sebuah karpet dan kuhadiahkan ke masjid. Aku takut, jika meninggal nanti tak ada yang mendoakanku lagi, tak ada yang mengirimi doa dan bacaan di alam kubur. Hanya satu harapanku, karpet itu bisa menjadi ladang amal buatku, amal jariah bagiku, setiap kali ada orang yang shalat di atasnya.”
Warga terenyuh mendengarnya. Mereka menjadi simpati, bahkan ada yang menitikkan air mata. Selama ini mereka hanya memikirkan diri sendiri dan dunia. Juga, tanpa pernah berbagi dengan sesama. Tidak memikirkan bekal apa yang akan dibawa ke alam kubur.
Haji Karmo yang sengaja membawa warga ke rumah Mak Saudah, dengan niat untuk mencemooh dan menghina Mak Saudah, diam-diam meninggalkan tempat itu. Ada sesuatu dalam hatinya yang ia rasakan, ia seperti tersendir. Tiba-tiba mukanya memerah, Ia pulang dengan wajah malu.
 Barabai, 25 Oktober 2011



READ MORE - KARPET
Senin, 30 Januari 2012

postheadericon Ibu, Aku ingin membuatmu Tersenyum

Dear My Blog,,,,,,,
Bagiku Mimi (sebutan Ibu) adalah seorang Wanita yang kuat segalanya,
Fisiknya, Hatinya.......
Apa aku bisa sekuat itu,
Setelah kejadian itu, tekadku makin kuat, aku tak ingin membuat ia menangis,
aku hanya ingin, melihatnya tersenyum. ^_^
Aku berjanji, Dan moga aku tak ingkar janji,,,,,,
Surga Dibawah telapak kaki Ibu,
Baktiku pada Ibuku, bukan sebatas untuk surga,
Semoga mendapat keridhoan Allah...

Kebahagian seseorang, tak selalu karna harta,
Kaya hartapun, harus dibarengi dengan kaya hati,
Aku tau, ibuku akan sangat bahagia,
Ketika Anak anaknya juga bahagia,

Jika ada usia untuk menjadi seorang Istri, dan menjadi seorang Ibu,
Pintaku padaNya, hanya semoga aku bisa menjadi seorang Istri dan Ibu yang baik.
Semoga, Aku dan keluargaku bisa berkumpul kembali di alam Lain, bukan hanya di dunia,
Semoga, aku menjadi manusia di akhirat nanti, 
READ MORE - Ibu, Aku ingin membuatmu Tersenyum
Selasa, 27 Desember 2011

postheadericon Traveling ke Pantai Pangandaran-Karapyak

Ceritanya sih dah lama banget,,,tapi tak apalah untuk dikenang..hehehe

Tanjung Sari, Maret 2010

Sekitar jam 6 pagi waktu tanjungsari, kita ( siapa aja ya kita tuh,,,hehehe) bersiap menuju mobil hasil patungan nge RENTAL. Hehe
Dengan personil anak Kosan MJ Alias Marga Jaya yaitu, aku ,Santi, sugih, izal, mang use, dan tetangga pondok, dari Pondok Abi Manyu dan Pondok Nada, yaitu Iam dan Ibenk. Siap melaju menuju Pantai Pangandaran. Dengan Pak supir, Sugih Giri Mughni eh apa Izal dulu ya yang nyupir,,,,lupa ah,,hehe..
Lumayan Pict pas diambil waktu lagi diperjalanan
Saatnya menikmati perjalanan menuju Pantai melalui Daerah Cileunyi (udah sering lewat itu sih klo mau pulang), Terus Ke rancaekek, Terus Lewat Garutnya dikit, Tasik, Ciamis....duh,,lupa rutenya

Belum pikun sih,,,tapi udah tua,,,
Eh salah,kebalik,,,belum tua2 amat,,tp udah pelupa yo,,,hehehe..
Aku lupa lagi kronologis perjalanannya.

Waktu tu sih qta sempet berenti bentar di rest area, buat makan.

Dan,karna cerita sugih tentang Pantai Karapyak, rombongan mobil kecil ini menuju TKP menurut sodara sugih.
Kata sugih sih, “Nggak bayar ko waktu sugih ama pa Dede(dosen) kesini.
Eh,,,ga taunya....pas udah mau deket,,,ada orang nyetop mobil, minta uang retribusi(berapa ya,lupa,hehe), Untuk masuk ke pantai tu..
Ya udahlah,,,tak kan setiap hari kesana ko,kalo tiap hari sih,,,jadi warganya aja,,hehehe

Pantai Karapyak


Suasana PANTAI KARAPYAK





































Ya,,,beginilah,,Cuma liat batu karang aja,,ama laut . 
Tapi, indah banget........
Walopun ga bisa berenang, kalopun maksain berenang, bisa pada berdarah darah deh tuh air lautnya 
WHY? Lah...wong banyaknya batu karang...hehe

Kita disini Cuma singgah bentar, sekedar jajan pecel aja,,,hehe...


Udah ya cerita Karapyak Beach  nya...


Karena Kita berangkat pagi, jadi deh nyampe Pangandaran siang.
Alhasil,,yang tadinya mau langsung berenang,karna hari itu panas banget, ya udah lah, sementara kita cari penginapan dulu,
Dulu tuh, dapet sewa kamar, yang AC, sekitar 150/200 rb/kmr gitu,,lupa..hehe


Akhirnya,,,,tiba juga sore, langsung deh main ke pantai

Mari main air,,,,,,^_^










Dan ini setelahnya,,karna pas main air,,,
ga da yg megang CAMDIG,,,Hehehe

Sore pun berganti malam, saatnya menikmati pantai dimalam hari dulu,,,,
Eh salah,tadinya mau nyari makan, langsung deh ke pelelangan,,,,
Tapi ternyata sodara,,,,,suara terbanyak tak mau makan disana,,,,ya udah,,kita keliling aja dulu,,,,ampe nemu warung yang ga telalu jauh dari pantai...




Pesenan ku adalah,,,,,UDANG SAUS TIRAM, Tp ini patungan loh ama santi,,hehehhe,,,buat ngirit,,,tapi ga da fotonya,,,saking lapernya jadi lupa,
Satu porsi udang Saus tiramnya sekitar  Rp27.000,

Dan,,,,setelah perut kenyang,,,,mau liat suasana pantai di malam hari ah,,,,
Gelap banget sodara,,eh jangan ada yang berenang ya,,,nanti ilang,,hehehe,,,
Susah nyarinya,,,dah gelap..





Dan akhirnya,,,inilah malam terakhir kita di pantai pangandaran.
Karna besok pagi,skitar jam 2an kita harus balik lagi ke tanjungsari,karna mobil sewaan harus dibalikin pagi banget.hehhe

Yu,,,,see U next Time,,,

READ MORE - Traveling ke Pantai Pangandaran-Karapyak
Sabtu, 03 Desember 2011

postheadericon Apa Harus Putus Dulu? – Potret

Lirik Lagu Apa Harus Putus Dulu? – Potret


Ku sampaikan kata pengantar ku
Sebelum ku jelaskan semua
Ku tak mau engkau salah rasa
Dan ku pun salah rasa padamu
Semua rasa air jadi tawar tanpa dirimu
Jangan patahkan selera ku
Bisa hilang feelingku padamu
Bila kau slalu meragukan ku
Dan tak pernah yakin padaku
Padahal kita sudah senyawa dan sejiwa
Apa harus putus dulu biar kau yakin padaku
Bahwa cintaku tanpa siasat
Bila pun putus ku pasti menangis
Pasti aku nangis darah
Apa harus putus dulu biar kau tau rasa
Tanpa diriku hari mu kan kusut
Maka dari itu cintai aku, yakini aku
Pasti setia


Sumber Konten: http://www.sejutalagu.com/potret-apa-harus-putus-dulu/#ixzz1fTyp4HHt



READ MORE - Apa Harus Putus Dulu? – Potret

postheadericon Tak Mudah- Potret

Lirik Lagu Tak Mudah – Potret

Sampai nanti bila waktu itu tiba
Ku jadi kekasihmu
Dan ku hanya untukmu
Ku sarankan kau pahami aku dulu
Tak mudah mengerti aku
Ku lain dari yang lain
Menjaga aku bukan hal yang mudah
Mencintaiku itu pun tak mudah
Aku lain dan tak sama dengan yang lain
Mungkin kau baru dapatkan
Aku senang cinta tapi yang tak lazim
Ku senang cinta penuh tantangan
Asal kau tahu untuk mendapatkanku
Bukan hal mudah bahkan sulit, tak mudaaah


Sumber Konten: http://www.sejutalagu.com/potret-tak-mudah/#ixzz1fTrursHz



READ MORE - Tak Mudah- Potret
Kamis, 01 Desember 2011

postheadericon Sebelum itu dan sesudah itu

Tulisan ini gw buat sebelum ada keputusan berangkat apa nggaknya...
teringat ama percakapam ama temen, si wafi, Blom ngerantau namanya kalo masih 1 pulau. hmmmmm..iya gitu.
dan minggu kemaren gw dapet tawaran dari temen buat kerja di Kaltim, daerah pedalaman banget, transportasi utama via sungai. ongkosnya juga ga murah. 
dengan berbagai pertimbangan,,,,akhirnya gw ambil keputusan buat minta izin dulu ke ortu.

tulisan tadi waktu bulan Oktober.....

Dan sekarang,udah Desember...hmmmmm

Pertengahan November dapet telepon dari kantor, katanya hari minggu berangkat,
karna udah pasti, rencannya gue mau pamit ama Guru ngaji,,,,dan,,,,

Ga jadi berangkat ke Kalimantan,ga dapet izin Guru ngaji,,,,,
tak jadilah kerja di perkebunan,
setelah itu,jadi aga tak bersemangat,
ga tau musti ngapain,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Dan setelah itu,banyak yang berbeda, Dia ,yang tadinya Slalu ngasih kabar,malah ga pernah...
Resiko ya,,,,,di satu sisi dibenci,disisi lain disuka.....


dan belum punya jawaban untuk pertanyaan pertanyaan itu.....
Jalan lain belum terlihat,,,,,,,

READ MORE - Sebelum itu dan sesudah itu
Senin, 07 November 2011

postheadericon Tanpa Judul a

Selalu,,,,,kalo lagi nonton tV. selalu di pikiran tuh ada hal yang mau dituliskan di bLog ato diary, 
tapi, pas udah ngadepin Lapy ama diary,,,,,,kata kata yg mtd mau ditulis, entah menghilang kemana,,,,
kabur,,,,,,hehehehe,.......
alhasil,,,,selalu acak2kan    
READ MORE - Tanpa Judul a

Total Tayangan Halaman

Mari Silaturahmi

Follower

My Blog List

Popular Posts

Share