Sabtu, 06 Agustus 2011
Aku Sayang Kamu
20.28 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Sayang, tak terasa kini kau bukan adik kecilku lagi.
Waktu kau kecil kau sangat cerewet, Segala yang ada ditanya, tidak cukup hanya 1 jawaban.
tapi berlanjut ke pertanyaan berikutnya. Pintar sekali adikku ini. hehehe
Aku sedih waktu kau sakit paru paru, yang mengharuskan kau selalu minum obat selama berbulan bulan.
Dan effeknya tubuhmu jadi gendut, hehehe. Pipinya kaya orang lagi niup balon.
Bajuku aja muat di kamu, dan baju kamu juga muat di aku. hihi
Aku dan adikku sering bercanda bahkan bertengkar,,,,,,jadilah aku yang selalu dimarahi. Tapi adikku juga dimarahi kalo dia yang salah.
Masih kuingat di tembok kamarku, coretan adikku ketika kecil.
" Teteh = Jakarta <-------> Sukabumi "
Lucu sekali,,waktu itu aku sekolah di sukabumi. Semenjak lulus SD aku tak selalu bisa bareng dengan adikku
Karna aku harus tinggal di Asrama. Oh,,,aku rindu adik kecilku
Dan Sekarang kau sudah bukan adik kecilku lagi,
READ MORE - Aku Sayang Kamu
Selalu ku Ingat betapa bahagianya aku saat kau hadir.
Aku ingin selalu menggendongmu waktu umurmu belum genap 1 minggu
yang ada aku hanya di marahi oleh Ibu,hehehe
Aku tau alasannya mengapa aku tak boleh menggendongmu saat itu, karna aku masih terlalu kecil untuk menggendong bayi mungil, takut kau terjatuh dari gendongannku.
Aku bahagaia, akhirnya punya Adik. Dan aku jadi seorang kakak.
Waktu itu umurku memang berbeda jauh dengan adikku ini,yaitu beda 7 tahun
tidak seperti teman teman sekitar rumahku yang punya adik hanya beda 2 atau 3 tahun.
Sehingga waktu di SD bisa sekolah bareng.
![]() |
| Kelas 1 SMP |
tapi berlanjut ke pertanyaan berikutnya. Pintar sekali adikku ini. hehehe
Aku sedih waktu kau sakit paru paru, yang mengharuskan kau selalu minum obat selama berbulan bulan.
Dan effeknya tubuhmu jadi gendut, hehehe. Pipinya kaya orang lagi niup balon.
Bajuku aja muat di kamu, dan baju kamu juga muat di aku. hihi
![]() |
| Kelas 2 SMP |
Masih kuingat di tembok kamarku, coretan adikku ketika kecil.
" Teteh = Jakarta <-------> Sukabumi "
Lucu sekali,,waktu itu aku sekolah di sukabumi. Semenjak lulus SD aku tak selalu bisa bareng dengan adikku
Karna aku harus tinggal di Asrama. Oh,,,aku rindu adik kecilku
![]() |
| Kelas 3 SMP |
karna kini kau sudah besar, usiamu sudah 16 tahun, sebentar lagi usiamu 17 tahun
Kau sudah baligh, kau sudah mulai ada rasa terhadap lawan jenismu.
Adikku, Kini kau jadi jauh denganku tak sedekat ketika kau masih kecil
Adikku, aku rindu bercanda denganmu,
![]() |
| Kelas 2 SMA |
Aku menyayangimu adikku.....Love You
Label:
gw aja
|
0
komentar
Kamis, 04 Agustus 2011
BALADA GURU HONORER
20.13 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
Penulis: Muhammad Saleh
READ MORE - BALADA GURU HONORER
BELUM lagi hilang lelahku sehabis mengajar. Istri ku, Ratih, dengan wajah masam sambil berkacak pinggang langsung berujar.
“Kalau honor Mas mengajar di sekolah hanya 350 ribu sebulan, mana cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Sekarang, kita sudah punya anak, Mas,” ingatnya berapi-api.
Hah..., sebenarnya aku sangat malas meladeni, bahkan bosan. Tiap kali aku menyerahkan honorku. Pasti dia ngomel tak karuan. Seharusnya dia ikut bersyukur. Bulan ini honorku dinaikkan pihak sekolah 50 ribu sebulan dari sebelumnya. Tapi, memang dasar tabiat istriku seperti itu. Bawaannya ngomel melulu. Salah ini diomelin. Salah itu juga diomelin. Nasib...! Nasib...!
“Ya, mau gimana lagi, Bu. Pihak sekolah hanya mampu membayar Mas segitu.” ucapku dengan terpaksa.
“Mas berhenti saja jadi guru,” sahut Ratih enteng. Masih dengan suara cemprengnya yang memekakkan gendang telinga. Kalau harus memilih, mungkin aku lebih suka mendengarkan musik-musik cadas. Dari pada suara Ratih.
“Maksud Ibu?”
“Mas cari kerjaan lain saja. Percuma jadi guru honorer. Sudah lima tahun mengabdi, belum juga di angkat jadi PNS.”
Ah, baru sadar aku. Ternyata sudah lima tahun aku menjadi guru honorer, di sebuah sekolah dasar di kampungku. Aku mengajar sejak semester akhir kuliah. Di tahun ke-empat, ku putuskan untuk menikahi Ratih. Sebab dia mau menerima aku apa adanya.
Tetapi, niat hatinya menerimaku dengan apa adanya hanya sampai di tahun pertama. Di tahun ke-dua, apalagi setelah mempunyai anak. Ratih mulai mempermasalahkan penghasilan kecilku sebagai guru honorer. Ia terus menggerutu dan mengomel karena terus kekurangan uang untuk membeli keperluan rumah tangga dan dapur.
Aku tak tahu ini salahku atau salah pemerintah. Kenapa sampai sekarang aku masih belum menjadi PNS? Padahal aku tak pernah ketinggalan mengisi formulir yang diberikan kepala sekolah, untuk mengisi data yang akan dimasukkan ke dalam data base.
Mungkin tak hanya diriku yang bernasib seperti ini. Ratusan, bahkan ribuan guru honorer di daerah lain. Nasibnya juga tak berbeda jauh dariku. Hanya mengharap “Belas Kasihan” Pemerintah agar segera di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, seperti harapan.
“Mau kerja apa? Mas bisanya cuma mengajar,” elakku.
Mengajar adalah panggilan jiwa. Aku sangat mencintai profesiku sebagai seorang guru. Aku juga punya harapan untuk memajukan kampung halamanku ini. Dengan menciptakan generasi-generasi yang cerdas melalui ilmu yang ku transfer di bangku sekolah.
“Kerja apa, kek, yang penting penghasilannya lebih besar dari ini.” Ratih menghempaskan uang yang tadi ku berikan ke atas meja. Lalu masuk ke kamar, sebab terdengar suara tangisan anakku yang tadi sedang tidur. Mungkin terbangun karena mendengar suaranya ibunya yang nyaring.
Sebelum punya anak, Ratih bekerja di warung makan Haji Bardi, sebagai pelayan. Upahnya cukup lumayan untuk menambah keuangan keluarga. Setelah punya anak, dia berhenti, karena harus merawat bayi kami. Kini hanya aku, satu-satunya menjadi tumpuan untuk menghidupi mereka.
Barulah aku tahu, alasan dia selalu marah-marah tak karuan. Ia ingin aku cari kerjaan lain rupanya. Ah, apakah aku terlalu bodoh selama ini? Sehingga tak mengerti keinginannya. Mungkin, ia ingin seperti tetangga yang lain. Yang segala kebutuhannya bisa terpenuhi. Bahkan lebih. Mereka bisa beli ini dan itu. Sedangkan istriku?
Namun, aku masih bersyukur. Ratih kuat menyimpan rahasia. Ia tak pernah bercerita ke tetangga akan keadaan rumah tangga kami. Ia selalu dapat berpura-pura, bahwa keluarga kami tak pernah kekurangan. Bahkan, terlihat sangat harmonis. Sehingga banyak keluarga lain yang terlihat iri.
Itu ku ketahui ketika aku mau membeli pisang goreng di warung Acil Rahmah. Tetapi, harus menunggu karena pisang gorengnya belum matang. Seraya menunggu, aku pun di ajak mengobrol warga lain.
“Kamu ini beruntung, Man,” kata Bang Salim. “Sudah istri cantik, pengertian lagi,” lanjutnya tampak iri.
“Maksud, Abang?” tanyaku bingung. Lalu duduk di sampingnya, di kursi panjang di dekat meja.
“Masa kamu tak paham sih, Man,” Acil Rahmah yang sedang membolak-balik pisang goreng dalam wajan langsung menyahut. “Istri kamu, tuh, tak seperti istrinya si Salim ini, yang suka marah-marah minta dibelikan ini dan itu...”
Hup..! Apakah jawaban Acil Rahmah yang spontan ini tak ada maksud untuk menyindirku juga?.
“Aku tak pernah mendengar kalian bertengkar, saat lewat depan rumahmu,” kata Bang Salim lagi. “Padahal aku tahu, penghasilanmu sebagai guru honorer, tak lebih besar dariku yang hanya penarik becak.....”
Ah, malu juga rasanya. Jadi guru, tetapi, penghasilannya lebih kecil dari penarik becak.
“Dari itu aku berkesimpulan, bahwa istrimu itu orang yang pengertian.” Bang Salim meniupkan asap rokoknya dengan kasar ke udara. “Kalau aku, hampir tiap hari bertengkar. Hanya gara-gara masalah duit.”
Oh, leganya juga rasanya. Ternyata selama ini tak pernah ada yang tahu keadaan dalam rumah tangga kami yang sebenarnya. Aku memang sering mengalah, bila Ratih sudah mulai mengomel. Ku ambil pancing, pergi ke pematang sawah. Memancing ikan papayu, ataupun saluwang. Bila beruntung, aku bisa dapat 20 ekor lebih. Itu sudah cukup untuk meredam kemarahan Ratih.
Seandainya, sikapku seperti Bang Salim–yang selalu meladeni istrinya bila marah. Dapat di pastikan, di rumahku bakal terjadi “Perang dunia ke-3” bahkan, sampai dua kali dalam sehari.
Ah, bagaimana ini? Apakah memang aku harus berhenti mengajar? Demi memenuhi keinginan Ratih. Pusing.....!.
Suara tangis anakku tak terdengar lagi. Ia sudah tertidur kembali. Tapi....ah, lebih baik aku pergi memancing saja. Kalau Ratih keluar kamar, pasti dia akan melanjutkan marahnya. Cepat ku ambil joran pancing di belakang rumah.
“Mas.....!” teriaknya.
Aku pura-pura tak mendengar. Terus ku kayuh langkah menuju pematang. Semoga saja aku dapat ikan banyak lagi kali ini.
Sebelum berangkat ke sekolah, aku beranjak ke meja makan untuk sarapan. Saat ku buka tudung saji. Kosong. Tak ada masakkan apapun seperti biasanya. Ku lirik Ratih, dengan cueknya dia menyusui bayi kami.
“Ibu tak masak?” ku hampiri Ratih. Tanpa senyum, ia langsung menyahut ketus.
“Mau masak apa? Beras kita hanya tinggal setengah liter. Cukup untuk makan siang saja.”
Aku tak lagi menyahut. Ku tinggalkan saja ia, lalu mengambil buku paket di atas meja. Kalau ku tanya lebih lanjut. Pasti jawabannya, mau beli beras pakai daun pisang. Dengan perut keroncongan, ku kayuh sepeda onthel-ku menuju sekolah.
Pengeluaran semakin meningkat, seiring semakin besarnya anak kami. Dari mulai popok, susu, bubur, dan pakaian. Ternyata, honorku selama satu bulan, tak cukup lagi untuk membiayai keluargaku selama satu minggu.
***
Di sekolah, aku mengajar dengan lemas. Perutku terasa sangat lapar. Melilit-lilit. Jam istirahat masih lama. Mau pergi ke kantor guru, untuk minum duluan, malu sama guru-guru yang lain. Dengan sangat terpaksa ku tahan rasa lapar ini.
“Pak, soal nomor 1, saya tak mengerti,” kata salah seorang muridku yang duduk di bangku depan.
Untuk saat ini, aku jauh lebih senang kalau tak ada satu murid pun yang bertanya, dengan begitu aku tak perlu membuang energiku yang hampir drop ini. Tapi, apa mau di kata, sebagai seorang guru aku harus dengan sabar menjelaskan pada murid-murid agar mereka mengerti.
“Pak, kok, enggak di jawab, sih!” kata muridku lagi. Kelihatannya dia mau merajuk.
“I-iya, Bapak akan jelaskan.”
Dengan sisa tenaga yang masih ada, ku mencoba menjelaskan secara perlahan bagaimana cara menyelesaikan tugas latihan yang tadi ku berikan. Semakin lama menjelaskan, suaraku semakin lemah. Sehingga murid-muridku yang duduk paling belakang langsung protes.
“Pak, nyaringin sedikit dong suaranya. Enggak kedengeran.....”
Kembali ku coba mengangkat suaraku. Agar semuanya bisa mendengar. Kali ini lebih parah lagi. Pandanganku mulai menguning. Berkunang-kunang. Bahkan, huruf dan angka yang ku tulis di whiteboard terlihat buram.
Krrrrruuuukk! Suara perutku.
Seiring dengan tawa murid-muridku yang langsung membahana menghantam dinding-dinding kelas. Aku ambruk ke lantai, dan semuanya gelap.
***
Bau minyak angin menusuk rongga hidungku. Ku buka kelopak mataku pelan. Warna putih langit-langit ruangan langsung menyapa retinaku. Ku coba mengenali aku berada di mana. Apakah di rumah sakit? Atau di rumah?.
“Alhamdulillah, Pak Herman sudah sadar, Bapak ada di ruang UKS.” suara Kepala Sekolah menjawab keingintahuanku.
Walaupun masih terasa pusing, ku coba untuk bangun. Duduk di bibir ranjang. Bu Tini, langsung menyodorkan teh panas ke hadapanku.
“Minum, lah, dulu, biar badanmu bertenaga kembali”
Tanpa membantah, langsung ku tenggak separo gelas. Ah, sedikit tenang rasanya cacing-cacing dalam perutku.
“Ini nasi bungkusnya, Pak” Pak Raji tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Menyerahkan sesuatu dalam kresek hitam kepada Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah tersenyum, kembali menghampiriku. “Kata murid-murid, Pak Herman pingsan mungkin gara-gara kelaparan. Jadi kami belikan nasi bungkus ini untuk Bapak.”
Ragu-ragu ku sambut nasi bungkus itu. Ku tatap semua yang ada di ruangan. Semua tersenyum. Ah, jadi malu sendiri. Ketahuan pingsan gara-gara kelaparan.
Bel jam pelajaran baru kembali berbunyi. Semua guru dan Kepala Sekolah kembali untuk mengajar. Tinggalah aku sendiri di ruang UKS sambil menghabiskan nasi bungkus ini.
Tiba-tiba aku aku tertegun, teringat wajah Ratih dan anakku. Sanggupkah mereka menahan lapar? Sedangkan aku saja pingsan. Ini baru sehari, bagaimana dengan hari-hari ?. Pasti akan lebih sering kejadian seperti ini terulang padaku.
Mungkin, aku harus mengingkari panggilan jiwa. Aku tak boleh egois. Ratih dan anakku merupakan amanah. Tak tega, membiarkan mereka harus mendera lapar karena tak dapat membeli beras dan susu. Sebagai seorang suami tentu tak menginginkan itu terjadi.
Ratih benar, lebih baik aku berhenti mengajar dan mencari kerjaan lain. Tak ada yang bisa di harapkan dari gaji seorang guru honorer untuk bisa menghidupi keluarga.
Di otakku kini sudah bertebaran kata-kata yang akan ku susun dalam surat pengunduran diri.
Barabai, 27 Maret 2011
Dari Ibnu Mas'ud RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila seseorang memberi nafkah untuk keluarganya dengan niat mengharap pahala maka baginya (pahala) sedekah.” (HR. Bukhari)
Annida
Annida
Label:
Ceritaku
|
4
komentar
Bukan Dua Kaki
20.07 | Diposting oleh
Siti Juhariah |
Edit Entri
KotaSantri.com - Shofa masih sibuk mengaduk-aduk masakan yang ada dalam panci. Tiba-tiba ia teringat, ini sudah jam 1 lewat. Segera ia menyalakan radio kecil yang berada di atas lemari makan dekat kompor. Shofa hampir tak pernah ketinggalan acara-acara yang diisi Ustadz Hanif. Setiap jam 5 pagi, sehabis Subuh, adalah acara rutin Shofa mendengarkan kuliah Subuh di Radio Al-Quds. Shofa bahkan hafal jam berapa dan acara apa saja yang diisi oleh Ustadz Hanif. Hal ini sudah berlangsung tiga tahun lebih.
READ MORE - Bukan Dua Kaki
Entah mengapa, Shofa merasa cocok sekali dengan ustadz yang satu ini. Kalau bicara tak pernah bertele-tele dan selalu mengena di hati. Apa saja yang dibahas pasti aktual, sesuai dengan masalah yang terjadi di sekitar. Kalau bicara tentang aqidah, Ustadz Hanif selalu tegas, tidak bisa ditawar-tawar. Tapi kalau membahas masalah ibadah, dengan sabar Ustad Hanif menjelaskan satu persatu pemecahan dari berbagai pendapat ulama. Biasanya ia merekomendasikan salah satu pemecahan yang punya dasar paling kuat. Walau begitu, ia tetap menyerahkan kepada pendengar, pendapat mana yang akan dipakai. Suatu penyelesaian yang cantik. Tidak fanatik terhadap satu pendapat tertentu.
"Shofa belum pulang?" sapa Bu Arif, pengurus TPA tempat Shofa mengajar.
Shofa menoleh, "Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan anak-anak."
"Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya penting tuh!"
"Sekarang Bu?"
"Ya, kalau Shofa sedang tidak repot."
Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas karpet masjid lalu berjalan mengikuti Bu Arif. Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat Shofa dan beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya beberapa puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang yang peduli dengan masalah keagamaan di kompleks itu. Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak Arif juga selalu menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk shalat berjamaah.
"Assalamu'alaikum," ucap Shofa dan Bu Arif berbarengan.
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Arif dari dalam. "Silahkan masuk nak Shofa. Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?"
"Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang ada yang bolos. Mereka cepat menyerap apa yang saya ajarkan." jawab Shofa.
"Bagus! Bagus! Alhamdulillah." kata Pak Arif. "Begini nak Shofa, Bapak ingin bicara dengan nak Shofa bukan mau membahas TPA. Ada hal yang lain."
Pak Arif terdiam. "Begini nak Shofa.... Apakah nak Shofa sudah siap menikah?"
Shofa tersenyum. "Niat sudah ada. Usia saya sudah cukup Pak. Tapi... belum ada jodohnya."
"Hmmmm....... begitu ya," Pak Arif berdehem sambil mengelus-elus jenggotnya. "Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang mencari pendamping hidup. Bapak dan Ibu berasa nak Shofa cocok dengan dia."
"Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya cocok dengan dia?" tanya Shofa tersipu.
"Lho... Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak Shofa. Nak Shofa ini gadis yang sholehah dan pandai menjaga diri. Begitu pula dengan teman Bapak ini. Dia sholeh dan berakhlak baik. Nah... kalau begini, apa bukan cocok namanya? Iya tho Bu?" jelas Pak Arif.
"Iya... iya!" Bu Arif manggut-manggit menimpali suaminya.
"Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak kesini untuk dipertemukan dengan nak Shofa," Pak Arif melanjutkan. "Bagaimana nak Shofa?"
"Bapak ini kok langsung main tanya. Bapak kan belum cerita yang mau dikenalkan ini siapa, bagaimana," tukas Bu Arif. "Wah... dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak ini masih muda. Lulusan S1 dan S2 dari Al-Azhar Kairo. Dia juga hafidz Al-Qur'an."
"Hafidz Quran?" gumam Shofa dalam hati. Salah satu doa yang ia panjatkan adalah mendapatkan pasangan hidup yang hafal Al-Qur'an, karena ia sendiri sedang berusaha menjadi hafidzhoh.
"Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan Dakwah, mengajar di beberapa tempat, sering mengisi ceramah. Dia mengisi acara di radio Al-Quds," papar Pak Arif.
"Radio Al Quds? Saya pendengar setia Radio Al-Quds lho Pak. Namanya siapa Pak, mungkin saja saya pernah mendengar," kata Shofa.
"Namanya Hanif Ibrahim."
Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik. Nama itu demikian dikenalnya dalam tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah salah satu tempat dirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat radio. Tausiyah-tausyiah melalui radio itu pula yang membuat Shofa jadi banyak berpikir, lalu berhijrah dan memutuskan untuk menjadi muslimah yang kaffah.
Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah Shofa. "Ada apa Shofa?"
"Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio."
"Nah... jadi sebetulnya sudah kenal tho, walaupun cuma dari radio," Pak Arif terkekeh. "Bagaimana, kapan nak Shofa siapbertemu Hanif?"
"Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita dulu kepada Ibu tentang masalah ini," jawab Shofa.
"Oohh.... ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah Ibumu bilang kami suruh langsung tanya saja ke nak Shofa. Ibumu setuju kok," ujar Pak Arif.
Sepulangnya dari rumah kedua orang tua yang sudah dianggapnya keluarga itu, Shofa bagai tak percaya apa yang baru saja terjadi. "Benarkah Ustadz Hanif jodohku?" tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah bertemu, tapi Shofa merasa telah sangat mengenal Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah bersemayam dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain mengadukan permasalahannya ini kepada Allah. Dihabiskannya malam-malam panjang di atas sajadah dengan bermunajat.
Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa dengan Hanif. Hari itu Shofa tampak manis. Tubuhnya dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna putih. Ia berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan hati, buah dari istikharahnya.
"Assalamu'alaikum," Shofa mengucap salam di depan pintu.
"Wa'alaikum salam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum datang. Sedang menjemput Hanif," jawab Bu Arif. Sambil menunggu, Bu Arif memberikan wejangan bagaimana menjadi istri sholehah dengan mengutip beberapa ayat dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali mengangguk.
Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul sesuatu yang tak disangka-sangka. Sebuah kursi roda yang berjalan tersendat karena membentur pintu, sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas kursi roda, dan Pak Arif yang mendorong kursi roda sambil tersenyum.
Shofa terhenyak, memandang tak percaya. "Inikah Ustadz Hanif?" Berbagai gejolak rasa menyergap dengan cepat. Shofa berusaha menenangkan perasaannya. Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri. "Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu," kata Pak Arif memecah kesunyian.
"Assalamu'alaikum dik Shofa," kata Hanif.
"Wa'alaikum salam," jawab Shofa. Ah, suaranya tidak berbeda dengan di radio. Tetap berkharisma.
"Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu hari ini. Pak Arif mungkin sudah cerita, saya memang punya niat untuk melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif. Cuma.... memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang lalu saya kecelakaan. Mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya lumpuh dan kaki kiri harus diamputasi. Apapun yang terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya memang tidak bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi. Kata dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah, saya pun ingin tidak terlalu lama bergantung pada kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan menggunakan kruk saja." Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif.
Shofa mengangkat wajahnya sedikit dan melihat sekilas ke arah Hanif. "Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan berseri-seri. Ada keikhlasan yang terpancar dari wajahnya." bathin Shofa.
"Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan keadaan saya. Inilah saya. Mungkin saya yang terlalu berani tetap berniat menikah dengan kekurangan fisik saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat membutuhkan kehadiran seorang istri."
Shofa diam tak bergeming. Dihadapannya sekarang, duduk seorang laki-laki yang memiliki kelebihan-kelebihan yang didambakannya selama ini. Sosok seorang suami yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, sholeh, berakhlak mulia, dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki anak-anak yang menjadi generasi penghafal dan pengamal Al-Qur'an. Bukankah ustadz Hanif adalah sosok yang tepat? Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.
"Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil keputusan cepat-cepat. Dia tentunya perlu menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan nak Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya nak Shofa?" Pak Arif berusaha menengahi suasana senyap di antara mereka.
Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog dengan bathinnya. Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. "Saya sudah sholat istikharah sejak pertama kali Pak Arif mau mengenalkan saya dengan Ustadz Hanif. Saya punya satu pertanyaan untuk Ustadz Hanif."
"Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab," kata Hanif.
"Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam surga, apakah seorang laki-laki harus mempunyai dua kaki?" tanya Shofa.
Hanif tersenyum. "Tentu saja tidak. Bukan butuh dua kaki. Yang dibutuhkan adalah landasan aqidah, ibadah dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga kemampuan untuk mendidik."
Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif dan Hanif. Bibirnya membiaskan senyum yang lebar.
"Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan dua kaki."
"Alhamdulillah!" berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan Hanif berseru.
***
Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong kursi roda Hanif menuju kamar pengantin. Kedua pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa tampak cantik, bergaun putih dan jilbab yang diberi rangkaian melati. Hanif meletakkan tangannya di atas kening istrinya, lalu membaca doa, "Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari godaan syetan dan dekatkanlah dengan apa yang Engkau rizkikan, anak-anak kepada kami."
Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan takzim. "Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?" tanya Shofa.
"Boleh. Apa itu?" Hanif tersenyum lebar.
"Shofa cinta Kak Hanif karena Allah," Shofa bicara sambil menunduk malu-malu.
"Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah." Hanif menyentuh dagu Shofa, mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora di jiwa mereka berdua. "Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami istri. Pandang kak Hanif dong!" Hanif menggoda Shofa. Shofa memandang Hanif tersipu.
"Ayo kita sholat dulu," kata Hanif.
"Shofa bantu kak Hanif wudhu ya," Shofa langsung beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda kekasih jiwanya ke kamar mandi.
Bersama percikan air wudhu yang menetes, Allah tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua makhluk kecintaan-Nya.
"Shofa belum pulang?" sapa Bu Arif, pengurus TPA tempat Shofa mengajar.
Shofa menoleh, "Belum Bu. Masih memeriksa pekerjaan anak-anak."
"Bisa mampir ke rumah? Bapak mau bicara. Katanya penting tuh!"
"Sekarang Bu?"
"Ya, kalau Shofa sedang tidak repot."
Shofa membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas karpet masjid lalu berjalan mengikuti Bu Arif. Rumah Bu Arif tidak jauh dari masjid tempat Shofa dan beberapa orang temannya mengajar anak-anak TPA. Hanya beberapa puluh meter saja. Pak Arif dan Bu Arif adalah orang yang peduli dengan masalah keagamaan di kompleks itu. Mereka mempelopori dibukanya TPA. Pak Arif juga selalu menghimbau bapak-bapak di kompleks untuk shalat berjamaah.
"Assalamu'alaikum," ucap Shofa dan Bu Arif berbarengan.
"Wa'alaikum salam," jawab Pak Arif dari dalam. "Silahkan masuk nak Shofa. Bagaimana nak Shofa, keadaan TPA sekarang?"
"Alhamdulillah Pak. Anak-anak semakin rajin. Jarang ada yang bolos. Mereka cepat menyerap apa yang saya ajarkan." jawab Shofa.
"Bagus! Bagus! Alhamdulillah." kata Pak Arif. "Begini nak Shofa, Bapak ingin bicara dengan nak Shofa bukan mau membahas TPA. Ada hal yang lain."
Pak Arif terdiam. "Begini nak Shofa.... Apakah nak Shofa sudah siap menikah?"
Shofa tersenyum. "Niat sudah ada. Usia saya sudah cukup Pak. Tapi... belum ada jodohnya."
"Hmmmm....... begitu ya," Pak Arif berdehem sambil mengelus-elus jenggotnya. "Bapak punya teman baik. Dia sangat sholeh dan sedang mencari pendamping hidup. Bapak dan Ibu berasa nak Shofa cocok dengan dia."
"Ah Pak Arif bisa saja. Bagaimana Bapak tahu saya cocok dengan dia?" tanya Shofa tersipu.
"Lho... Bapak dan Ibu kan sudah lama memperhatikan nak Shofa. Nak Shofa ini gadis yang sholehah dan pandai menjaga diri. Begitu pula dengan teman Bapak ini. Dia sholeh dan berakhlak baik. Nah... kalau begini, apa bukan cocok namanya? Iya tho Bu?" jelas Pak Arif.
"Iya... iya!" Bu Arif manggut-manggit menimpali suaminya.
"Kalau nak Shofa setuju, Bapak bisa ajak teman Bapak kesini untuk dipertemukan dengan nak Shofa," Pak Arif melanjutkan. "Bagaimana nak Shofa?"
"Bapak ini kok langsung main tanya. Bapak kan belum cerita yang mau dikenalkan ini siapa, bagaimana," tukas Bu Arif. "Wah... dari tadi Bapak belum cerita ya? Teman Bapak ini masih muda. Lulusan S1 dan S2 dari Al-Azhar Kairo. Dia juga hafidz Al-Qur'an."
"Hafidz Quran?" gumam Shofa dalam hati. Salah satu doa yang ia panjatkan adalah mendapatkan pasangan hidup yang hafal Al-Qur'an, karena ia sendiri sedang berusaha menjadi hafidzhoh.
"Sehari-harinya dia bekerja di Lembaga Pengembangan Dakwah, mengajar di beberapa tempat, sering mengisi ceramah. Dia mengisi acara di radio Al-Quds," papar Pak Arif.
"Radio Al Quds? Saya pendengar setia Radio Al-Quds lho Pak. Namanya siapa Pak, mungkin saja saya pernah mendengar," kata Shofa.
"Namanya Hanif Ibrahim."
Deg! Jantung Shofa serasa berhenti berdetak selama sepersekian detik. Nama itu demikian dikenalnya dalam tiga tahun terakhir ini. Nama itu adalah salah satu tempat dirinya menimba ilmu tentang ke-Islaman lewat radio. Tausiyah-tausyiah melalui radio itu pula yang membuat Shofa jadi banyak berpikir, lalu berhijrah dan memutuskan untuk menjadi muslimah yang kaffah.
Bu Arif menangkap adanya perubahan pada rona wajah Shofa. "Ada apa Shofa?"
"Saya sering mendengarkan beliau ceramah di radio."
"Nah... jadi sebetulnya sudah kenal tho, walaupun cuma dari radio," Pak Arif terkekeh. "Bagaimana, kapan nak Shofa siapbertemu Hanif?"
"Kapan saja, terserah Bapak. Tapi saya harus cerita dulu kepada Ibu tentang masalah ini," jawab Shofa.
"Oohh.... ibumu sudah tahu. Kami sudah cerita. Malah Ibumu bilang kami suruh langsung tanya saja ke nak Shofa. Ibumu setuju kok," ujar Pak Arif.
Sepulangnya dari rumah kedua orang tua yang sudah dianggapnya keluarga itu, Shofa bagai tak percaya apa yang baru saja terjadi. "Benarkah Ustadz Hanif jodohku?" tanyanya dalam hati. Walaupun belum pernah bertemu, tapi Shofa merasa telah sangat mengenal Hanif. Diam-diam sebentuk kekaguman telah bersemayam dalam hatinya. Tidak ada cara lain bagi Shofa selain mengadukan permasalahannya ini kepada Allah. Dihabiskannya malam-malam panjang di atas sajadah dengan bermunajat.
Dua bulan kemudian, tibalah saat pertemuan Shofa dengan Hanif. Hari itu Shofa tampak manis. Tubuhnya dibalut gamis biru dan jilbab lebar berwarna putih. Ia berjalan menuju rumah Pak Arif dengan penuh kemantapan hati, buah dari istikharahnya.
"Assalamu'alaikum," Shofa mengucap salam di depan pintu.
"Wa'alaikum salam. Nak Shofa ayo masuk. Pak Arif belum datang. Sedang menjemput Hanif," jawab Bu Arif. Sambil menunggu, Bu Arif memberikan wejangan bagaimana menjadi istri sholehah dengan mengutip beberapa ayat dan hadits. Shofa mendengarkan dengan takzim. Sesekali mengangguk.
Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka lebar. Lalu muncul sesuatu yang tak disangka-sangka. Sebuah kursi roda yang berjalan tersendat karena membentur pintu, sesosok tubuh dengan satu kaki yang duduk di atas kursi roda, dan Pak Arif yang mendorong kursi roda sambil tersenyum.
Shofa terhenyak, memandang tak percaya. "Inikah Ustadz Hanif?" Berbagai gejolak rasa menyergap dengan cepat. Shofa berusaha menenangkan perasaannya. Suasana hening. Shofa bagai mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri. "Nak Shofa, ini Hanif yang Bapak ceritakan dulu," kata Pak Arif memecah kesunyian.
"Assalamu'alaikum dik Shofa," kata Hanif.
"Wa'alaikum salam," jawab Shofa. Ah, suaranya tidak berbeda dengan di radio. Tetap berkharisma.
"Alhamdulillah, Allah mengijinkan kita untuk bertemu hari ini. Pak Arif mungkin sudah cerita, saya memang punya niat untuk melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu menikah. Saya minta dicarikan calon oleh Pak Arif. Cuma.... memang keadaan saya seperti ini. Sebulan yang lalu saya kecelakaan. Mobil saya tabrakan dengan truk. Tangan kiri saya lumpuh dan kaki kiri harus diamputasi. Apapun yang terjadi sudah kehendak Allah. Kaki saya memang tidak bisa kembali. Tapi tangan kiri saya sedang diterapi. Kata dokter kemungkinan besar bisa pulih. Insya Allah, saya pun ingin tidak terlalu lama bergantung pada kursi roda. Kalau sudah membaik, saya akan menggunakan kruk saja." Kata-kata mengalir deras dari bibir Hanif.
Shofa mengangkat wajahnya sedikit dan melihat sekilas ke arah Hanif. "Subhanallah. Wajahnya tenang sekali. Bahkan berseri-seri. Ada keikhlasan yang terpancar dari wajahnya." bathin Shofa.
"Saya tidak heran jika dik Shofa tidak berkenan dengan keadaan saya. Inilah saya. Mungkin saya yang terlalu berani tetap berniat menikah dengan kekurangan fisik saya. Tapi, justru dengan kondisi ini saya sangat membutuhkan kehadiran seorang istri."
Shofa diam tak bergeming. Dihadapannya sekarang, duduk seorang laki-laki yang memiliki kelebihan-kelebihan yang didambakannya selama ini. Sosok seorang suami yang sempurna. Ilmu agamanya bagus, sholeh, berakhlak mulia, dan seorang hafidzh. Cita-cita Shofa adalah memiliki anak-anak yang menjadi generasi penghafal dan pengamal Al-Qur'an. Bukankah ustadz Hanif adalah sosok yang tepat? Kekurangannya hanya satu, fisiknya cacat tak sempurna.
"Hanif, mungkin nak Shofa belum bisa mengambil keputusan cepat-cepat. Dia tentunya perlu menimbang-nimbang. Kita beri saja waktu, mudah-mudahan nak Shofa bisa segera memberikan jawaban. Begitu ya nak Shofa?" Pak Arif berusaha menengahi suasana senyap di antara mereka.
Shofa masih saja diam tak menjawab. Sibuk berdialog dengan bathinnya. Tiba-tiba saja Shofa mengangkat wajahnya. "Saya sudah sholat istikharah sejak pertama kali Pak Arif mau mengenalkan saya dengan Ustadz Hanif. Saya punya satu pertanyaan untuk Ustadz Hanif."
"Silahkan dik Shofa, saya akan coba menjawab," kata Hanif.
"Untuk dapat membawa istri dan anak-anaknya ke dalam surga, apakah seorang laki-laki harus mempunyai dua kaki?" tanya Shofa.
Hanif tersenyum. "Tentu saja tidak. Bukan butuh dua kaki. Yang dibutuhkan adalah landasan aqidah, ibadah dan akhlak yang lurus dan kuat. Dan juga kemampuan untuk mendidik."
Shofa memandang bergantian ke arah Pak Arif, Bu Arif dan Hanif. Bibirnya membiaskan senyum yang lebar.
"Saya udah mantap. Saya tidak membutuhkan suami dengan dua kaki."
"Alhamdulillah!" berbarengan Pak Arif, Bu Arif, dan Hanif berseru.
***
Resepsi pernikahan baru saja usai. Shofa mendorong kursi roda Hanif menuju kamar pengantin. Kedua pengantin itu berwajah cerah ceria. Hanif begitu tampan dan gagah dengan jas dan kopiah hitam. Shofa tampak cantik, bergaun putih dan jilbab yang diberi rangkaian melati. Hanif meletakkan tangannya di atas kening istrinya, lalu membaca doa, "Dengan nama Allah, jauhkanlah kami dari godaan syetan dan dekatkanlah dengan apa yang Engkau rizkikan, anak-anak kepada kami."
Shofa menggamit dan mencium tangan suaminya dengan takzim. "Kak Hanif, boleh Shofa mengutarakan sesuatu?" tanya Shofa.
"Boleh. Apa itu?" Hanif tersenyum lebar.
"Shofa cinta Kak Hanif karena Allah," Shofa bicara sambil menunduk malu-malu.
"Kak Hanif juga cinta dik Shofa karena Allah." Hanif menyentuh dagu Shofa, mengangkat wajahnya. Mereka bertatapan. Lekat. Ada debur yang menggelora di jiwa mereka berdua. "Lho kok nunduk. Kita sudah resmi suami istri. Pandang kak Hanif dong!" Hanif menggoda Shofa. Shofa memandang Hanif tersipu.
"Ayo kita sholat dulu," kata Hanif.
"Shofa bantu kak Hanif wudhu ya," Shofa langsung beranjak dari duduknya dan mendorong kursi roda kekasih jiwanya ke kamar mandi.
Bersama percikan air wudhu yang menetes, Allah tebarkan rahmat dan cinta di antara kedua makhluk kecintaan-Nya.
Label:
Ceritaku
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
Total Tayangan Halaman
Mari Silaturahmi
Follower
My Blog List
Popular Posts
-
Ada beberapa referensi nih buat sanggar rias pengantin, yang pasti TOP deh hasil riasannya, walau nggak aku pake,,,hehehe 1. Sanggar Liz...
-
Setiap kemasan makanan atau minuman umumnya mencantumkan label yang berisi kandungan nutrisi dalam produk tersebut. Tapi seringkali hal sepe...
-
Setiap produsen minyak goreng, pasti mengklaim produknyalah yang paling baik, dan menyehatkan. Misalnya, karena mengandung omega 3 dan omega...
-
Check out this SlideShare Presentation: Pola-pola Kemitraan dalam Pengembangan Usaha Ekonomi Skala Kecil, Menengah dan Besar View more prese...





